Rumah Terapung dari Botol Plastik Bekas - Ruang Sipil

Breaking

Ruang Sipil

Memberikan Informasi Teknik Sipil

About Author

Kamis, 15 Maret 2018

Rumah Terapung dari Botol Plastik Bekas

Negara Bangladesh menjadi salah satu negara yang paling rentan terkena bencana alam. Banjir, badai dan naiknya permukaan air laut akan mengancam para penduduk. Tercatat pada tahun 2016, Bangladesh pernah terkena angin topan atau badai siklon.

Diperkirakan pada tahun 2050, sebanyak 17 persen area akan mengalami banjir yang disebabkan oleh naiknya permukaan air laut. Hampir setiap tahunnya cuaca ektrem akan menerpa negara itu, bangunan komersil, rumah dan sekolah rusak.
Menanggapi kondisi tersebut, sebuah firma arsitektur yang berbasis di Amsterdam bernama Waterstudio akan membuatkan rumah apung yang dapat diterapkan untuk mengatasi dan menahan banjir di negara itu.
Rumah apung akan terbuat dari palet kayu, botol bekas dan kawat yang akan dirangkai. Botol-botol bekas akan disusun dibawah palet dan akan diikat kawat sehingga akan mengapung. Rumah apung ini akan diberi nama City Apps.

Setelah selesai, City Apps ini akan dikirim ke Dhaka, ibu kota Bangladesh pada akhir November. Waterstudio juga akan mengirimkan sebanyak 5 unit ke korail untuk penduduk yang berpenghasilan rendah.
Setiap unit akan didukung oleh panel surya yang terletak di atap. City Apps dibuat sangat portable dan bisa di pindah-pindahkan ke berbagai lingkungan yang berbeda dan dirancang kedap udara agar mengurangi resiko banjir.

Pada siang hari City Apps akan menjadi sebuah kelas yang memiliki 20 buah tablet workstation dan 2 layar untuk mengajar, terdapat ruangan klinik, sistem penyaring air, toilet umum dan generator cadangan listrik pada rumah apung ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar